Halaman

Kamis, 29 September 2011

karya tulis

 
 
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
 
Apresiasi merupakan salah satu kegiatan yang dibutuhkan sebagai sarana pengenalan dan memahami. Melalui apresiasi kita bisa lebih memahami kesenian yang ada disekitar kita.  Generasi muda merupakan ujung tombak kelestarian seni tradisi, jika keterlibatan langsung sulit dilaksanakan, apresiasi merupakan alternatif yang bagus pula.

Tari tradisional adalah tarian yang hidup dan berkembang dalam sebuah masyarakat yang memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang dan dikembangkan sacara turun temurun. Reyog Tulungagung merupakan salah satu seni budaya yang diwariskan oleh nenek moyang dalam wujud seni tradisional. Tidak dapat dipastikan kapan reyog  itu mulai ada. Beberapa versi menyebutkan asal-usul kesenian reyog .

Meskipun ada beberapa versi berlainan tentang asal usul reyog , namun kesamaan reyog  adalah sama-sama berupa seni pertujukan, yaitu Reyog  merupakan tarian arakan yang dipersembahkan kepada raja. Ciri khas yang membedakan Reyog Tulungagung dengan seni tari pada umumnya adalah para pemain atau penari Reyog Tulungagung sekaligus pemukul instrument. 

Bentuk penyajian pertunjukan tari Reyog Tulungagung berupa permainan bersama. Para penari melakukan gerakan tari yang dilakukan bersama-sama dengan memainkan alat musik yang disebut dodog. Pertunjukan ini disertai vocal pemain, sedang bentuk penyajian antara penari dan pengrawit dilakukan secara terpisah. Penari ditempatkan di depan pengrawit. Jumlah penari ada 6 orang dan masing-masing penari membawa instrumen yang berbeda. Instrumen lain yang digunakan adalah gong, kenong, dan slompret.
Apresiasi terhadap  Reyog Tulungagung merupakan kegiatan yang sangat menarik dan membantu  pengenalan tehadap kesenian tradisional.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah bentuk penyajian Reyog Tulungagung?
Bagaimanakah apresiasi terhadap Reyog Tulungagung dalam kegiatan-kegiatan di Kabupaten Tulungagung?
Tujuan
Mendiskripsikan bentuk penyajian Reyog Tulungagung.
Menjabarkan kegiatan-kegiatan apresiasi  Reyog Tulunagung di Tulungagung
BAB II
PEMBAHASAN
Bentuk Penyajian Reyog Tulungagung

Reyog Tulungagung merupakan kesenian yang berbentuk arak-arakan, tetapi bentuk ini bukan merupakan bentuk baku. Pada situasi tertentu sesuai dengan kebutuhan  Reyog Tulungagung dapat disajikan sebagai pertunjukan yang lebih menekankan pada bentuk koreografi. Dalam penyajiannya Reyog Tulungagung terdiri dari gerak, musik, busana dan pola pertunjukan.
 

Gerak
Gerakan baris        : Yaitu lurus seperti layaknya berbaris dengan dhodhog         kerep berada paling depan, kaki berjalan mengikuti irama dhodhog, biasanya menggunakan irama drum band. Irama dan gerak ini dilakukan pada saat sedang keluar maupun berjalan masuk
Gerakan Menthokan    : Yaitu gerak berjalan sambil jongkok menirukan menthok yang berjalan dengan pinggul digoyang-goyang
Gerakan Patetan    : Gerakan yang membuka kaki kanan membuka memutar.
Gerakan Kejang    : Yaitu berjalan dengan tumit diangkat, posisi badan kaku seperti orang kejang atau robot.
Gerakan Lilingan    : Yaitu gerakan ngliling secara berpasang-pasangan maju berpasangan ngliling lagi begitu seterusnya .
Gerakan Ngongak Sumur    : Yaitu gerakan kaki kanan ke depan dan belakang, pada saat kaki kanan ke depan pandangan ke bawah dan waktu kaki kanan ke belakang pandangan ke depan, begitu berulang-ulang.
Gerak Gejoh Bumi    : Yaitu gerakan dengan posisi badan agak membungkuk kaki kanan di depan napak datar, sedangkan kaki kiri di belakang dengan mengangjat tumit dan kaki kiri di gejoh-gejohkan ke tanah.
Gerak Midak Kecik    :  Yaitu jalan mundur dengan ujung kaki menapak lebih dahulu kemudian baru tumitnya
Gerak Sundangan    : Yaitu gerakan pada bahu dan kepala dengan badan agak membengkok, gerakan yang menyerupai kerbau atau sapi yang sedang menyundang.
Gerak Andul    : Yaitu gerakan berdiri dengan satu kaki sambil loncat, sedangkan kaki kanan diangkat diayun-ayunkan.
Gerak Gembyangan    : Yaitu gerak memindahkan kaki kanan ke serong kanan depan kemudian dipindah ke serong kiri depan. 
 

Musik
Peralatan tari yang juga menjadi instrument tari adalah dhodhog atau gembluk. Dhodhog adalah alat musik yang berbentuk seperti kendang tetapi pada sisi depannya saja yang diberi penutup kulit, sedangkan bagian belakang tetap berlubang. Cara membunyikannya dengan cara dipukul, bentuk dhodhog hampir sama dengan tifa dari Maluku atau tamtam dari Irian Jaya. Instrumen Reyog Tulungagung terdiri dari dodog 1 atau dhodhog, dodog 2 atau dhedheg, imbal 1, imbal 2, keplak atau kempyang, dan trinthing.
 

Cara pukul dhodhog secara garis besar terdiri atas tiga macam, ada yang dipukul dengan telapak tangan penuh untuk dhodhog kerep dan keplak. Sedangkan untuk dhodhog, imbal 1 dan dan imbal 2 dipukul dengan telapak tangan injo. Dan satu lagi Dhodhog trinting dipukul dengan alat pukul yang bernama trunthung. Adapun instrumen lain disamping dhodhog adalah Kenong Menggunakan nada slendro 5, jumlah satu buah.Gong Menggunakan kempul nada 5 slendro, jumlah 1 buah. Trompet Jumlah satu buah.
Busana
 

Kostum bagian kepala
Udheng    : ikat kepala terbuat dari kain batik motif gadung  warna hitam. Cara pemakaiannya diikat dikepala dengan sudut tengah udheng diletakkan di dahi, kedua ujung ditarik kedepan kemudian melingkar dengan ikatan dibagian belakang kepala. Setelah diikat samping kanan dan kiri ditarik ke atas sehingga menyerupai tanduk.
Guling    : bulatan panjang dari kain warna merah putih yang dibentuk melingkar di kepala di luar udheng, dengan ujung menyilang disamping kiri.
Sumping    : hiasan telinga
Kostum bagian badan
Baju    : baju lengan panjang dengan krah model cina,  warna putih,
namun dalam perkembangannya untuk kreasi dibolehkan memilih warna-warna yang harmonis. Sebaiknya memilih warna-warna kontras.
Clono/kathok : celana panjang sebatas lutut warna hitam
Kain panjang    : kain batik motif parang, cara pemakainnya kain dilipat dua memanjang, kemudian bagian pinggir lipatan diatas, kain dililitkan pada bagian pinggang hingga bawah pantat dan ujungnya dibuat menggelantung dibagian depan tengah.
4)  Stagen    : kain stagen untuk pengikat kain panjang digunakan di luar kain
5)  Sabuk/ Timang    : ikat pinggag yang terbuat dari bludru yang digunakan di    luar stagen.
Kace    : kalung yang berbentuk bulan sabit dari bahan bludru dihiasi monte
Ter        : semacam tanda kepangkatan diletakkan di pundak kanan dan kiri.
Srempang    : hiasan yang terbuat dari bahan bludru dan disulam monte, cara pemakainnya dipasang melintang dari pundak kiri dan ujungnya di pinggul kanan.
Boro-boro    : hiasan dari bludru diberi hiasan monte, jumlah dua buah dipasang didepan paha kanan dan kiri.
Sampur    : selendang berjumlah dua buah dipasang di kiri dan kanan pinggang depan diikatkan pada sabuk, dibuat menggelantung ke depan dan belakang.
Keris    : senjata yang dipasang di bagian belakang disisipkan pada stagen  dengan posisi bagian atas condhong ke kanan.
Kostum bagian lengan
1)   Deker    : hiasan pada pergelangan tangan kiri dan kanan terbuat dari bludru  dihiasi monte
Kostum bagian kaki
Kaos kaki    : kaos kaki panjang berwarna putih
Gongseng    : hiasan pergelangan kaki yang diberi klinting
 



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
    Kegiatan apresiasi merupakan kegiatan penting sebagai salah satu media pengenalan terhadap kesenian-kesenian tradisional. Apresiasi dapat dilihat dalam aspek gerak, musik, busana, dan sebagainya. Segala bentuk pertunjukan dapat digunakan sebagai bahan apresiasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar