Halaman

Rabu, 28 September 2011

Jika Aku BerSyair

melalui sebuah tinta dalam pena aku selipkan rangkaian rayuan manja,
kuterjang segala khayal yang fana, demi suatu makna bergelora
hanya dengan tulisan ku mampu mengungkap, bisu aku dibuatmu

ini bukan syair asmara, yang melantunkan aroma kemesraan,
hanya sekedar mampu merayu mata melirik,

terkapar aku di terik rembulan , terangnya kekilauan.
sembari menanti bayangan yang merasuk fikiran 
ku lantunkan lagu lagu kenangan masa silam

peluh jatuh , terombang ambing tak aturan
seraya tatapan kosong dan aku ..........
turut serta dalam nyanyian rembulan

seakan aku tak sadar , telah di intai dari atas sana.
sinar kerlipan memancar menyorot wajahku ini.
iya... sinaran BINTANG,
aku malu semalu malunya dibuat malu 
terus dan terus bintang menarik tatpan tajam menyentak gerangan daku pun tersentak

kumampu merayunya, kenapa tidak dengan Bintang?
sering kali aku membuang pandang dan meliriknya...
sering pula aku mengintip dibalik jemari kaca
sampai tiba tiba bintang hilang....
kamana ia ....

sang raja awan hitam pun menyelimuti bintangku itu ,
aku tak terima , tapi apalah daya..
kini yang ada hanya tangisan bintang di atas sana
awan telah menguasai tempat mereka
sungguh JAHARA


malam di laut selatan t.a

1 komentar: